PENGUMUMAN: Pemerintah sedang tidak aktif hingga batas waktu yang tidak ditentukan karena alasan-alasan yang tidak dapat dipublikasikan [www.mhe.my.id]

Surat Ulu dan bahasa Sekayu ditetapkan sebagai aksara resmi dan bahasa nasional

Vlanderming, 10 Juni 2024 - Pemerintah secara resmi menetapkan Surat Ulu Sumatera Selatan sebagai aksara resmi Republik setelah diresmikannya bahasa Sekayu sebagai bahasa nasional kedua setelah bahasa Jawa oleh Ketua Marhaen, hari ini pukul 12:48 siang Waktu Indonesia Barat.

Selain itu, Ketua Marhaen juga mengubah nama Departemen Kebudayaan menjadi Departemen Bahasa dan Kebudayaan yang kemudian diamanahkan untuk mengemban tugas standardisasi bahasa Sekayu dan Surat Ulu agar dapat digunakan dan lebih pentingnya lagi dilestarikan dengan baik di antara rakyat Republik, komunitas mikronasional serta rakyat global.

Perlu diketahui, status "bahasa resmi" dan "bahasa nasional" adalah dua hal yang berbeda. Beberapa perbedaan yang ditetapkan adalah: bahasa resmi dan aksara resmi digunakan dalam dokumen-dokumen kenegaraan pemerintah pusat dan daerah, sedangkan bahasa nasional adalah bahasa-bahasa daerah yang dirasa cukup banyak dituturkan di Republik dan biasanya digunakan pada acara-acara tertentu yang bertema kedaerahan.

Silakan baca beberapa penjelasan sederhana di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang Surat Ulu dan bahasa Sekayu:

Apa itu Surat Ulu?

Secara luas, Aksara atau Surat Ulu merupakan rumpun aksara yang sesuai namanya, berkembang di kawasan hulu-hulu sungai di Sumatera bagian tengah hingga selatan. Sedangkan secara sempit, "Surat Ulu" merujuk pada sebutan aksara yang berkembang di kawasan hulu-hulu sungai Bengkulu dan Sumatera Selatan yang juga disebut sebagai aksara Kaganga (sesuai nama tiga huruf pertamanya), yakni Aksara Rejang, Aksara Besemah, Aksara Rencong dan sebagainya.

A. Aksara Induk

Surat Ulu seperti aksara turunan Pallawa lainnya berupa silabis yang memiliki vokal bawaan /a/. Namun kerap dieja menurut dialek setempat menjadi kê-gê-ngê di Pasemah/Besemah, dan ko-go-ngo di Serawai yang mana pengejaan ini akan memengaruhi penggunaan tanda baca.

Aksara induk terdiri dari Buak Tuai dan Aksara Ngimbang (sengau/prenasal). Tabel berikut menunjukkan ragam karakteristik bentuk huruf yang umumnya muncul pada keempat daerah tersebut. (Sarwono & Rahayu, 2014).


B. Tanda Diakritik

Tanda baca menunjukkan beragam variasi suara beserta bentuk. Pada Ulu Serawai dan Pasemah tidak didapati tanda baca [ê] dan [o] dikarenakan aksara ini dieja menurut dialek masing-masing menjadi kê-gê-ngê di Pasemah dan ko-go-ngo di Serawai sehingga tanda-tanda baca tersebut tidak diperlukan. Untuk mengubah vokal menjadi bunyi [a] digunakan tanda baca “jinah” yang pada variasi lain digunakan sebagai vokalisasi [ê].

Tabel dari Sarwono & Rahayu (2014). Diperkirakan bahwa tanda bunuh yang berbentuk bulat juga karena pengaruh arab (tanda baca sukun).

Contoh papan nama jalan di Pasemah, tanda diakritik ‘jinah’ digunakan untuk vokalisasi [a] (Sumber: easy.blogdetik.com)

C. Surat Ulu di Unicode

Tidak semua dari variasi-variasi tersebut telah dikodekan oleh Unicode. Aksara Ulu muncul di Unicode bernama "Aksara Rejang" sebagai berikut:

Gambar dari id.wikipedia.org (ket: kesalahan tulis, huruf nnga = ngga)

Sangat disayangkan versi Unicode ini terdapat beberapa ketidak-akuratan pada beberapa bentuk huruf yang tidak terlihat sesuai dengan apa yang terdapat pada naskah tradisional.

====================

Apa itu Bahasa Sekayu?

Sebenarnya, bahasa Sekayu merupakan sebuah dialek dari bahasa Musi, dan berikut merupakan penjelasan singkat mengenai bahasa Musi:

Bahasa Musi?

Dilansir dari Wikipedia bahasa Indonesia, bahasa Musi adalah ragam bahasa Austronesia dari cabang Melayik yang dituturkan oleh orang suku Musi yang mayoritas mendiami daerah sekitar aliran Sungai Musi, utamanya di Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Musi Rawas dengan penutur asli berjumlah sekitar 600.000 orang.

Secara historis, bahasa Melayu Musi memiliki asal-usul yang berasal dari daerah dekat Sungai Musi (utamanya Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Musi Rawas) yang pada zaman modern merupakan bagian dari wilayah provinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

Dialek

Berdasarkan kajian dialektologis yang dilakukan oleh McDowell & Anderbeck (2020), bahasa Musi dalam pengertian sempit (tidak mencakup ragam lain dalam rumpun bahasa Musi) dapat dibagi menjadi tiga dialek utama berdasarkan kesamaan leksikal dan ciri fonologis. Dialek-dialek tersebut adalah 1) Kelingi, 2) Penukal, dan 3) Sekayu.

====================

Mengapa Surat Ulu dan bahasa Sekayu?

Berdasarkan hasil pertemuan anggota Kongres Rakyat, penggunaan Surat Ulu sebagai aksara resmi dianggap akan efektif sebagai sarana pelestarian warisan budaya lokal dengan keunikan yang menjadi poin plus tersendiri terhadap branding Republik di komunitas mikronasional global. Selain itu, Surat Ulu juga dianggap cocok digunakan untuk menuliskan bahasa Indonesia.

Adapun penggunaan nama "Bahasa Sekayu" merupakan pengadaptasian terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat setempat yang seringkali menyebut dialek Sekayu ini sebagai suatu bahasa. Selain itu, hal ini juga dilakukan sebagai usaha untuk membedakan "Bahasa Sekayu" dengan "Bahasa Palembang" dan lain-lainnya yang juga merupakan dialek bahasa Musi dengan beberapa perbedaan yang cukup besar walaupun tidak begitu banyak.

Rencana ke depan

Dikarenakan banyak kosakata bahasa Sekayu yang belum distandardisasi, pemerintah belum dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahasa ini sebelum dirilisnya kamus resmi bahasa Sekayu oleh Departemen Bahasa dan Kebudayaan bersama dengan Institut Marhaen. Dan mulai saat ini, bentuk bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang sehari-hari diucapkan dari seseorang ke orang lain, dengan tanpa ejaan yang distandardisasi.

Begitu pula dengan Surat Ulu. Dengan belum diselesaikannya proses standardisasi Surat Ulu oleh Departemen Bahasa dan Kebudayaan bersama dengan Institut Marhaen, pemerintah dan masyarakat untuk saat ini dapat menggunakan versi penulisan yang ditemukan di alat transliterasi online yang dapat ditemukan di Aksara Ulu Kaganga | Dashboard.
LihatTutupKomentar